Minggu, 29 Desember 2013

Bussiness Model Pak Kyai...

Jawaban Quiz VI : Business Model Pak Kyai…

Saya tengah memikirkan konsep  Business Model Pak Kyai ketika terbetik ide untuk melibatkan pembaca dalam penulisannya. Dua manfaat sekaligus diperoleh dengan melibatkan pembaca ini, pertama ada yang melengkapi pengetahuan saya yang terbatas ini dan yang kedua karena melibatkan sejumlah besar participant yang ikut menjawab Quiz VI yang saya lontarkan tersebut – maka penghayatan tentang kebenaran janji Allah itu insyaAllah lebih mudah diyakini bersama – karena pembaca sendiri  yang menemukan jawabannya.

Pertama saya gunakan personifikasi Pak Kyai, karena pengajaran-pengajaran pak kyai ini di masa kecil saya sangat membekas. Kedua hal-hal sederhana yang biasa dilakukan oleh Kyai-kyai yang shaleh, terkadang mengandung makna yang sangat dalam ketika diaplikasikan dalam kehidupan kita.

Contoh yang sederhananya ya Matematika Pak Kyai yang saya jadikan tema Quiz tersebut. Sejak pertama kali kita belajar  berhitung di SD  “10-1 = 9” , maka siswa SD yang menjawab diluar ini pasti salah – bisa nggak naik kelas dia !

Masalahnya adalah ketika ilmu matematika ini begitu mendominasi pemikiran kita bahwa 10 dikurangi 1 pasti 9 , dan kemudian konsep matematika ini kemudian mempengaruhi pengelolaan harta kita – yang terjadi adalah kita menjadi pelit untuk berinfaq atau bersedekah. Dalam benak kita infaq atau sedekah adalah factor pengurang dari harta kita.

Sementara perhitungan matematika 10-1=9 adalah benar untuk aplikasi kehidupan pada umumnya, tetapi juga ada factor lain ketika kita berinfaq atau bersedekah – yaitu adanya balasan dari Allah Sang Maha Pencipta. Di satu sisi harta kita berkurang memang, tetapi di sisi lain ada penambahan yang jauh lebih besar dari factor pengurang tersebut.

Dari mana kita tahu akan adanya penambahan di sisi lain tersebut ?, dari mana lagi kalau bukan dari janji-janji Allah yang pasti benarnya. Janji-janji ini bisa ditemukan dalam sejumlah ayat maupun hadits yang sahih. Di antaranya adalah ayat-ayat sebagai berikut :

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS 2 : 261)

Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS 6 : 160)

Kemudian juga dari hadits qudsi berikut :

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : Allah Azza wa Jalla berfirman : “Barang siapa berbuat kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan yang semisal dan terkadang Aku tambahkan lagi. Dan barang siapa yang berbuat keburukan, maka balasannya adalah keburukan yang serupa atau Aku mengampuninya. Barangsiapa mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari. Dan barang siapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula””.(Shahih Muslim, hadits no 4852).

Jadi dalilnya sangat kuat bahwa balasan Allah itu jauh lebih besar dari harta yang kita infaqkan. Sehingga dalam hal pengelaan harta ini, satu yang kita infaqkan dari harta kita, akan diganti oleh Allah dengan sepuluh atau lebih dan bahkan bisa 700 . Bila dibahasakan matematikanya menjadi “10 – 1 >= 19” karena pengurang yang 1 diganti 10 atau lebih (“>=” dibaca “lebih besar atau sama dengan”).

Banyak sekali yang menjawab benar, sehingga saya harus memilihnya dengan berdasarkan kelengkapan argumentnya. Pemenangnya adalah :

1)     Dian Susilowati (1 Dinar)
2)     Utomo Andrian ( 1 Khamsah)
3)     Cut Asyifanur ( 1 Dirham)

Pemenang bisa menghubungi kami untuk meng-klaim hadiahnya.

Namun lebih penting dari Quiz ini sendiri adalah bagaimana sekarang kita mengaplikasikannya dalam kehidupan kita untuk hal yang sudah dijanjikan oleh Allah pasti benarnya ini ? Aplikasinya di kehidupan pribadi insyaAllah sudah sangat banyak yang menerapkan dan merasakannya. Namun bagaimana kalau kita terapkan pada dunia usaha ? seperti apa modelnya ?

Inilah yang saya sebut Business Model Pak Kyai, pemikiran-pemikiran khas a la Kyai yang sepintas nampak sederhana – kini bisa menjadi Business Model nan canggih di era teknologi ini. Saya beri contoh misalnya buku-buku yang selama ini dicetak rekanan-rekanan kami dari tulisan-tulisan di situs ini.

Ketika buku pertama sampai 12 dicetak dan dijual ke masyarakat dengan harga x misalnya. Maka secara teoritis kami memiliki pendapatan yang merupakan penjumlahan dari exemplar tercetak/buku x harga masing-masing buku x royalty (%). Ketika buku yang ke 13 kami putuskan digratiskan – otomatis penghasilan dari buku ini tidak ada lagi. Berapapun buku tersebut dibaca orang – semuanya gratis, sehingga tidak ada lagi penghasilan dari buku ini. Lantas dari mana penggantinya ?


Grafik di atas memberi ilustrasi tentang konsep ini, dalam berinteraksi melayani masyarakat – kami putuskan semaksimal mungkin masyarakat mendapatkan layanan itu gratis. Baik itu berupa buku, tulisan sampai juga training-training yang kami adakan di Startup Center. Inilah masyarakat luas di ujung kanan dari grafik.

Penghasilan kami sendiri cukup dari sedikit masyarakat diujung kiri dari grafik tersebut – yaitu sedikit masyarakat yang membeli Dinar, membeli bibit-bibit kebun Al-Qur’an dan bahkan juga ada beberapa orang yang menawarkan lahannya yang luas untuk kami olah menjadi Kebun Al-Qur’an.

Bayangkan sekarang, beberapa kebun yang akan digarap itu luasannya bisa berkisar puluhan dan ratusan hektar. InsyaAllah akan sangat lebih dari cukup untuk menggantikan pendapatan yang hilang dari penjualan buku !

Lebih lanjut bayangkan pula  bila perusahaan-perusahaan di Indonesia berlomba mengembangkan model bisnis serupa. Maka mayoritas masyarakat akan memperoleh layanan itu gratis, hanya segelintir orang atau pihak saja yang perlu membayar – yaitu orang-orang atau pihak-pihak yang memang memperoleh manfaat maksimal, sehingga layak mereka membayar  penuh untuk ini.

Lebih detil aplikasinya insyaAllah kita akan bahas dalam pertemuan Majlis BTWG berikutnya 25/01/2014 di Startup Center dengan judul “Social Business Model – A Great Conquest” – yang berminat sudah boleh mendaftar karena dibatasi hanya maksimal 100 orang setiap acara. InsyaAllah.

geraidinar.com 

Senin, 25 Februari 2013

jenis-jenis kambing di Indonesia


Jenis-jenis Kambing di Indonesia
(Kambing Kacang, Etawa, Jawarandu, Saanen, Boer, dsb)

Dengan semakin banyaknya (kuantitas) dan semakin mampunya (kualitas) peternak melakukan penyilangan sendiri, maka saat ini sebenarnya semakin sulit menentukan jenis kambing. Namun demikian disini akan diuraikan secara singkat jenis-jenis kambing yang ada di Indonesia (beredar di pasaran). 

1. Kambing Kacang
Kambing kacang adalah ras unggul kambing yang pertama kali dikembangkan di Indonesia. Kambing kacang merupakan kambing lokal Indonesia, memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam setempat serta memiliki daya reproduksi yang sangat tinggi. Kambing kacang jantan dan betina keduanya merupakan tipe kambing pedaging. 
    Ciri-ciri kambing kacang :
  • Tubuh kambing relatif kecil dengan kepala ringan dan kecil.
  • Telinganya tegak, berbulu lurus dan pendek.
  • Pada umumnya memiliki warna bulu tunggal putih, hitam, coklat, atau kombinasi ketiganya.
  • Kambing jantan maupun betina memiliki dua tanduk pendek.
  • Berat tubuh jantan dewasa dapat mencapai 30 kg, serta betina dewasa mencapai 25 kg.
  • Tinggi yang jantan 60 - 65 cm, sedangkan yang betina 56 cm.
  • Memiliki bulu pendek pada seluruh tubuh, kecuali pada ekor dan dagu, pada kambing jantan juga tumbuh bulu panjang sepanjang garis leher, pundak dan punggung sampai ekor dan pantat.
2. Kambing Etawa (Kambing Jamnapari)
Kambing Ettawa atau dikenal juga dengan nama Kambing Jamnapari, merupakan jenis kambing unggul yang memiliki dua tipe fungsi yaitu sebagai kambing penghasil susu maupun kambing untuk penghasil daging.

Kambing Etawa didatangkan ke Indonesia dari India. 
    Ciri-ciri kambing Etawa :
  • Badannya besar, tinggi gumba kambing jantan 90 cm hingga 127 cm dan yang betina mencapai 92 cm.
  • Bobot yang jantan bisa mencapai 91 kg, sedangkan betina hanya mencapai 63 kg.
  • Telinganya panjang dan terkulai ke bawah.
  • Dahi dan hidungnya cembung.
  • Kambing jantan maupun betina bertanduk pendek.
  • Kambing Etawa mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari.
3. Kambing Jawarandu (Bligon, Gumbolo, Koplo, Kacukan)
Kambing Jawarandu (Jawa Randu) memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Merupakan hasil silangan dari kambing peranakan etawa dengan kambing kacang, namun sifat fisik kambing kacangnya yang lebih dominan. Untuk menghemat biasanya peternak susu kambing memilih kambing ini untuk diternakkan guna diambil susunya. Kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 1,5 liter per hari. 
    Ciri-ciri kambing Jawarandu :
  • Memiliki tubuh lebih kecil dari kambing ettawa, dengan bobot kambing jantan dewasa dapat lebih dari 40 kg, sedangkan betina dapat mencapai bobot 40 kg.
  • Baik jantan maupun betina bertanduk.
  • Memiliki telinga lebar terbuka, panjang dan terkulai.
  • Baik jantan maupun betina merupakan tipe pedaging dan penghasil susu.
4. Kambing PE (Peranakan Etawa)
Kambing ini merupakan hasil persilangan antara kambing Etawa dengan kambing lokal/Kacang, dengan tujuan lebih mampu beradaptasi dengan kondisi Indonesia.Kambing ini dikenal sebagai kambing PE (Peranakan Etawa), dan saat ini juga dianggap sebagai kambing Lokal.

Kambing PE berukuran hampir sama dengan Etawa namun lebih adaptif terhadap lingkungan lokal Indonesia. Tanda-tanda tubuhnya berada diantara kambing Kacang dan kambing Etawa. Jadi ada yang lebih ke arah kambing Etawa, ada sebagian yang lebih ke arah kambing Kacang.

Kambing ini awalnya tersebar di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, dan saat ini hampir di seluruh Indonesia. Pejantan mempunyai sex-libido yang tinggi, sifat inilah yang membedakan dengan kambing Etawa. 
    Ciri-ciri kambing Etawa :
  • Warna bulu belang hitam, putih, merah, coklat dan kadang putih.
  • Badannya besar sebagaimana Etawa, bobot yang jantan bisa mencapai 91 kg, sedangkan betina mencapai 63 kg.
  • Telinganya panjang dan terkulai ke bawah, bergelambir yang cukup besar
  • Dahi dan hidungnya cembung.
  • Kambing jantan maupun betina bertanduk kecil/pendek.
  • Daerah belakang paha, ekor dan dagu berbulu panjang
  • Kambing Etawa mampu menghasilkan susu hingga tiga liter per hari.
5. Kambing Boer
Kambing Boer aslinya berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata "Boer" artinya petani. Kambing Boer merupakan kambing pedaging yang sesungguhnya karena pertumbuhannya sangat cepat.

Kambing ini pada umur lima hingga enam bulan sudah dapat mencapai berat 35 – 45 kg, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 – 0,04 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Kambing Boer jantan akan tumbuh dengan berat badan 120 – 150 kg pada saat dewasa (umur 2-3 tahun), sedangkan Betina dewasa (umur 2-3 tahun) akan mempunyai berat 80 – 90 kg. Boer betina maupun jantan keduanya bertanduk.
Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% – 50% dari berat tubuhnya

Kambing Boer dapat dikenali dengan mudah dari tubuhnya yang lebar, panjang, dalam, berbulu putih, berkaki pendek, berhidung cembung, bertelinga panjang menggantung, berkepala warna coklat kemerahan atau coklat muda hingga coklat tua. Beberapa kambing Boer memiliki garis putih ke bawah di wajahnya. Kulitnya berwarna coklat yang melindungi dirinya dari kanker kulit akibat sengatan sinar matahari langsung. Kambing ini sangat suka berjemur di siang hari.

Kambing Boer dapat hidup pada suhu lingkungan yang ekstrim, mulai dari suhu sangat dingin (-25 derajat celcius) hingga sangat panas (43 derajat celcius) dan mudah beradaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Tahan terhadap penyakit. Mereka dapat hidup di kawasan semak belukar, lereng gunung yang berbatu atau di padang rumput. Secara alamiah mereka adalah hewan yang suka meramban sehingga lebih menyukai daun-daunan, tanaman semak daripada rumput.

Kambing Boer Jantan
Boer jantan bertubuh kokoh dan kuat sekali. Pundaknya luas dan ke belakang dipenuhi dengan pantat yang berotot. Boer jantan dapat kawin di bulan apa saja sepanjang tahun. Mereka berbau tajam karena hal ini untuk memikat betina. Seekor pejantan dapat aktif kawin pada umur 7-8 bulan, tetapi disarankan agar satu pejantan tidak melayani lebih dari 8 – 10 betina sampai pejantan itu berumur sekitar satu tahun. Boer jantan dewasa (2 – 3 tahun) dapat melayani 30 – 40 betina. Disarankan agar semua pejantan dipisahkan dari betina pada umur 3 bulan agar tidak terjadi perkawinan yang tidak direncanakan. Seekor pejantan dapat mengawini hingga selama 7 – 8 tahun.

Kambing Boer Betina
Boer betina tumbuh seperti jantan, tetapi tampak sangat feminin dengan kepala dan leher ramping. Ia sangat jinak dan pada dasarnya tidak banyak berulah. Ia dapat dikawinkan pada umur 10 – 12 bulan, tergantung besar tubuhnya. Kebuntingan untuk kambing adalah 5 bulan. Ia mampu melahirkan anak-anak tiga kali dalam dua tahun. Betina umur satu tahunan dapat menghasilkan 1 – 2 anak. Setelah beranak pertama, ia biasanya akan beranak kembar dua, tiga, bahkan empat.
Boer induk menghasilkan susu dengan kandungan lemak sangat tinggi yang cukup untuk disusu anak-anaknya. Ketika anaknya berumur 2½ – 3½ bulan induk mulai kering. Boer betina mempunyai dua hingga empat puting, tetapi kadangkala tidak semuanya menghasilkan susu. Sebagai ternak yang kawinnya tidak musiman, ia dapat dikawinkan lagi tiga bulan setelah melahirkan. Birahinya dapat dideteksi dari ekor yang bergerak-gerak cepat disebut “flagging”. Boer betina mampu menjadi induk hingga selama 5 – 8 tahun.
6. Kambing Saanen
Kambing Saanen ini aslinya berasal dari lembah Saanen, Swiss (Switzerland) bagian barat. Merupakan salah satu jenis kambing terbesar di Swiss dan penghasil susu kambing yang terkenal. Sulit berkembang di wilayah tropis karena kepekaannya terhadap matahari. Oleh karena itu di Indonesia jenis kambing ini disilangkan lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis dan tetap diberi nama kambing Saanen, antara lain dengan kambing peranakan etawa. 
    Ciri-ciri kambing Saanen :
  • Bulunya pendek berwarna putih atau krim dengan titik hitam di hidung, telinga dan di kelenjar susu.
  • Hidungnya lurus dan muka berupa segitiga.
  • Telinganya sederhana dan tegak ke sebelah dan ke depan.
  • Ekornya tipis dan pendek.
  • Jantan dan betinanya bertanduk.
  • Berat dewasa 68-91 kg (Jantan) dan 36kg - 63kg (Betina), tinggi ideal kambing ini 81 cm dengan berat 61 kg, di saat tingginya 94 cm beratnya 81 kg.
  • Produksi susu 740 kg/ms laktasi.
7. Kambing Gembrong
Kambing Gembrong terdapat di daerah kawasan Timur Pulau Bali terutama di Kabupaten Karangasem.

Pertama kali melihat hewan ini seperti melihat anjing berbulu panjang dan lebat, padahal kambing. Melihat badannya memang mirip kambing, tetapi bila melihat bulunya yang lebat mirip anjing. Dari badan hingga kepala, hewan ini juga hampir tertutup seluruhnya oleh bulu. Itulah kambing Gembrong, kambing asal Bali yang hampir punah. 

Ciri khas kambing Gembrong jantan berbulu panjang lebat dan mengkilap, yang tumbuh mulai dari kepala hingga ekor. Bila dibiarkan, panjang bulu bisa mencapai 25—30 cm. Setiap 12—16 bulan sekali, bulunya mesti dicukur. Jika tidak, bulu bagian kepala dapat menutupi mata dan telinga, sehingga akan mempersulit kambing saat makan.

Sedangkan bentuk dan ukuran tubuh kambing betina mirip kambing kacang. Tapi pada bagian bawah perut melebar. Kambing gembrong betina juga bertanduk, namun lebih pendek dan oval. Rambut panjang terdapat pada kambing jantan, sedangkan kambing Gembrong betina berbulu pendek berkisar 2-3 cm.

Warna tubuh dominan kambing Gembrong pada umumnya putih sebagian berwarna coklat muda dan coklat. Pola warna tubuh kebanyakan satu warna, sebagian lagi dua - sampai tiga warna. Tinggi kambing (gumba) 58 - 65 cm, bobot badan kambing dewasa 32-45 kg. Kambing jantan berjumbai pada dahi. Jumbai terkadang menutup mata dan muka kambing.

Kambing gembrong ini dulunya merupakan persilangan antara kambing Kashmir dengan kambing Turki. Kedua jenis kambing itu masuk ke Bali dari luar negeri sebagai hadiah untuk seorang bangsawan Bali, yang kemudian berkembang sampai sekarang di daerah Bali.

Beberapa peternak mencoba menyilangkan kambing Gembrong dengan kambing Peranakan Ettawah (PE). Dari persilangan itu dihasilkan kambing gettah alias gembrong ettawah.
8. Kambing Boerawa
Kambing Boerawa merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dengan kambing Peranakan Etawah (PE) betina.

Ternak hasil persilangan kedua jenis kambing tadi disebut dengan Boerawa yakni singkatan dari kata Boerawa dan Peranakan Etawah. Kambing hasil persilangan ini mulai berkembang dan banyak jumlahnya di Propinsi Lampung, walaupun upaya persilangan antara kambing Boer dengan kambing lokal telah dilakukan di beberapa propinsi lainnya seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.
9. Kambing Muara
Kambing Muara dijumpai di daerah Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara di Propinsi Sumatera Utara. 

Dari segi penampilannya kambing ini nampak gagah, tubuhnya kompak dan sebaran warna bulu bervariasi antara warna bulu coklat kemerahan, putih dan ada juga berwarna bulu hitam. Bobot kambing Muara ini lebih besar dari pada kambing Kacang dan kelihatan prolifik. Kambing Muara ini sering juga beranak dua sampai empat sekelahiran (prolifik). Walaupun anaknya empat ternyata dapat hidup sampai besar tanpa pakai susu tambahan dan pakan tambahan tetapi penampilan anak cukup sehat, tidak terlalu jauh berbeda dengan penampilan anak tunggal saat dilahirkan. Hal ini diduga disebabkan oleh produksi susu kambing relatif baik untuk kebutuhan anak kambing 4 ekor.
10. Kambing Kosta
Lokasi penyebaran kambing Kosta ada di sekitar Jakarta dan Propinsi Banten. Kambing ini mempunyai bentuk tubuh sedang, hidung rata dan kadang-kadang ada yang melengkung, tanduk pendek, bulu pendek. Kambing ini dulunya terbentuk dari persilangan kambing Kacang dan kambing Khasmir (kambing impor).

Warna dari kambing Kosta ini adalah coklat tua, coklat muda, coklat merah, abu-abu sampai hitam. Pola warna tubuh umumnya terdiri dari 2 warna, dan bagian yang belang umumnya didominasi oleh warna putih.

Kambing Kosta terdapat di Kabupaten Serang, Pandeglang, dan disekitarnya serta ditemukan pula dalam populasi kecil di wilayah Tangerang dan DKI Jakarta. Selama ini masyarakat hanya mengenal Kambing Kacang sebagai kambing asli Indonesia, namun karena bentuk dan performa Kambing Kosta menyerupai Kambing Kacang, sering sulit dibedakan antara Kambing Kosta dengan Kambing Kacang, padahal bila diamati secara seksama terdapat perbedaan yang cukup signifikan.

Salah satu ciri khas Kambing Kosta adalah terdapatnya motif garis yang sejajar pada bagian kiri dan kanan muka, selain itu terdapat pula ciri khas yang dimiliki oleh Kambing Kosta yaitu bulu rewos di bagian kaki belakang mirip bulu rewos pada Kambing Peranakan Ettawa (PE), namun tidak sepanjang bulu rewos pada Kambing PE dengan tekstur bulu yang agak tebal dan halus. Tubuh Kambing Kosta berbentuk besar ke bagian belakang sehingga cocok dan potensial untuk dijadikan tipe pedaging. Saat ini populasi Kambing Kosta terus menyusut.
11. Kambing Marica
Kambing Marica adalah suatu variasi lokal dari Kambing Kacang yang terdapat di Provinsi Sulawesi Selatan, dan merupakan salah satu genotipe kambing asli Indonesia yang menurut laporan FAO sudah termasuk kategori langka dan hampir punah (endargement).

Daerah populasi kambing Marica dijumpai di sekitar Kabupaten Maros, Kabupaten Jeneponto, Kabupaten Sopeng dan daerah Makassar di Propinsi Sulawesi Selatan. Kambing Marica punya potensi genetik yang mampu beradaptasi baik di daerah agro-ekosistem lahan kering, dimana curah hujan sepanjang tahun sangat rendah. Kambing Marica dapat bertahan hidup pada musim kemarau walau hanya memakan rumput-rumput kering di daerah tanah berbatu-batu. Ciri yang paling khas pada kambing ini adalah telinganya tegak dan relatif kecil pendek dibanding telinga kambing kacang. Tanduk pendek dan kecil serta kelihatan lincah dan agresif.
12. Kambing Samosir (Kambing Putih, Kambing Batak)
Berdasarkan sejarahnya kambing Samosir ini dipelihara penduduk setempat secara turun temurun di Pulau Samosir, di tengah Danau Toba, Kabupaten Samosir, Provinsi Sumatera Utara.

Kambing Samosir pada mulanya digunakan untuk bahan upacara persembahan pada acara keagamaan salah satu aliran kepercayaan aninisme (Parmalim) oleh penduduk setempat. Kambing yang dipersembahkan harus yang berwama putih, maka secara alami penduduk setempat sudah selektif untuk memelihara kambing mereka mengutamakan yang berwarna putih. Kambing Samosir ini bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekosistem lahan kering dan berbatu-batu, walaupun pada musim kemarau biasanya rumput sangat sulit dan kering. Kondisi pulau Samosir yang topografinya berbukit, ternyata kambing ini dapat beradaptasi dan berkembang biak dengan baik.

Tubuh kambing dewasa yaitu rataan bobot badan betina 26 - 32 kg; panjang badan 57 - 63 cm; tinggi pundak 50 - 56 cm; tinggi pinggul 53 - 59 cm; dalam dada 28 - 33 cm dan lebar dada 17 - 20 cm.

Berdasarkan ukuran morfologik tubuh, bahwa kambing spesifik lokal Samosir ini hampir sama dengan kambing Kacang yang ada di Sumatera Utara, yang membedakannya terhadap kambing Kacang yaitu penotipe warna tubuh yang dominan putih dengan hasil observasi 39,18% warna tubuh putih dan 60,82% warna tubuh belang putih hitam. Pemberian nama kambing Samosir pada saat ini masih secara lokal dan dikenal dengan nama Kambing Putih atau Kambing Batak.

Artikel ini kami peroleh dari: http://dompi.co.id/_dompi.php?_i=jenis-kambing 

Rabu, 23 Januari 2013

cara budidaya kroto

Cara Budidaya Kroto - Semut rangrang banyak kita jumpai pada batang tanaman terutama yang berukuran besar. Kadang tidak terpikirkan oleh kita bahwa banyak manfaat yang didapatkan dari semut rangrang, bahkan bisa menjadi sebuah peluang usaha yang menjanjikan. Semut rangrang merupakan predator alami dari ulat bulu. Seperti yang kita ketahui, ulat bulu adalah hama yang merugikan tanaman, terlebih saat kasus wabah ulat bulu beberapa waktu yang lalu. Perkembangbiakan semut rangrang dapat membantu menekan pertumbuhan ulat bulu sebagai hama tanaman. Budidaya Kroto Cara Budidaya Kroto Semut Rangrang Telur semut rangrang atau biasa dikenal dengan sebutan kroto, juga dapat diambil manfaatnya dengan dikembangbiakkan. Kroto adalah makanan yang baik untuk burung agar kicauannya indah. Sebagai gambaran, harga kroto di pasaran berkisar 45-80rb per kg, jika sedang langka bahkan harganya bisa menembus 100rb per kg. Sebuah potensi ladang bisnis yang menggiurkan bukan, apalagi peternak semut rangrang kian jarang dijumpai. Langkah awal dimulai dengan mencari sarang ratu semut rangrang penghasil kroto, ratu semut adalah yang berukuran paling besar. Tahap pertama ini memerlukan ketekunan karena diperlukan kerja keras untuk menemukan sang ratu. Setelah ditemukan, potong cabang tempat semut bersarang dan kita letakkan ke pohon inang baru. Agar lebih meningkatkan produksi kroto, berikan bangkai serangga, tulang atau sisa makanan berdaging lainnya dan cairan manis. Semut rangrang dapat menghasilkan hingga 1 kg kroto dalam 10 hari. Dalam satu pohon bisa terdapat lebih dari satu sarang semut rangrang penghasil kroto, yang terdiri atas sarang pusat, sarang telur, dan sarang satelit. Sarang pusat biasanya terletak di tajuk pohon yang di sana merupakan tempat berdiam ratu semut. Prospek peluang usaha budidaya kroto ini terbilang besar, mengingat permintaan pasar semakin meningkat seiring bertambahnya para pecinta burung. Sedangkan kelangkaan sering terjadi akibatnya minimnya peternak yang menggeluti usaha ini. Secara ekonomi bisnis ini berpeluang untuk dikembangkan ke arah komersil. Namun setiap usaha memerlukan ketekunan dan kerja keras untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Selasa, 22 Januari 2013

salam kenal dari penulis

assalamu'alaikum w w . wellcome ... anda memasuki komunitas entrepreneurship, silahkan anda menikmati sajian-sajian kami semoga dapat menjadi motivasi terhadap diri anda dalam menjalankan usaha, trimakasih wassalamu'alaikum
w w.

Jumat, 24 Februari 2012

PELUANG USAHA TERNAK KAMBING

Di Indonesia, kambing telah lama dipelihara di pedesaan. Akan tetapi peranan kambing sampai saat ini belum banyak berarti, baik sebagai sumber daging maupun sumber air susu. Hal ini terjadi karena usaha peternakan kambing masih sederhana dengan jumlah pemilikan sedikit dan masih merupakan usaha sampingan dan sebagai tabungan. Sebenarnya ternak kambing mempunyai potensicukup besar untuk berkembang, karena termasuk ternak yang mempunyai adaptasi cukup tinggi, disamping modal yang diperlukan relatif sedikit. Pengembangan peternakan berkaitan dengan peningkatan pendapatan. Pendapatan yang meningkat dari suatu usaha peternakan akan memberikan motivasi untuk berusaha lebih baik. Sukses dan gagalnya suatu usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh kemampuan ternaknya berproduksi dan harga input produksi serta output yang dihasilkan. Keadaan tersebut erat kaitannya dengan kemampuan peternak dalam mengelola usahanya dan tingkat keuntungan maksimum yang dicapainya. Peternak dengan jumlah ternakpemilikan yang banyak, mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Jumlah pemilikan ternak yang lebih banyak umumnya akan lebih efisien dalam hal tenaga kerja dan biaya produksi. Populasi kambing di Indonesia cukup tinggi tetapi data mengenai bangsa kambing perah di Indonesia tidak ada, karena data tersebut masih secara umum dan tidak dikelompokkan menurut tipe kambing perah maupun kambing potong. Pengembangan produksi susu merupakan upaya yang bertujuan meningkatkan dan memanfaatkan potensi yang ada di dalam negeri sehingga terjadi peningkatan produksi susu. Peningkatan produksi susu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mengurangi impor dan sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Jenis kambing perah yang ada di Indonesia adalah kambing Peranakan Etawah (PE). Kambing PE tersebut banyak terdapat di daerah Kali Gesing, Purworejo, Jawa Tengah. Kambing PE merupakan kambing persilangan antara kambing Etawah dengan kambing Kacang. Kambing Etawah berasal dari India sedangkan kambing Kacang merupakan kambing asli Indonesia. Kambing perah lain yang sedang dikembangkan di Indonesia adalah kambing Saanen yang berasal dari Swiss. Jumlah penduduk Indonesia yang besar sangat potensial bagi permintaan produk peternakan. Menurut pangsanya pada tahun 2001, konsumsi produk peternakan dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masing-masing adalah daging sebesar 5,11 kg/kapita/tahun, telur sebesar 3,47 kg/kapita/tahun dan susu sebesar 6,46 kg/kapita/tahun. Perkembangan konsumsi susu dalam lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 7,9 % per tahun. Peningkatan konsumsi susu dari tahun ke tahun merupakan peluang bagi pengembangan ternak penghasil susu (diolah dari Deptan, 2001). Produksi susu di Indonesia pada tahun 1997 adalah 423.664 ton terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan rata-rata 5,1 % per tahun, sehingga pada tahun 2001 menjadi sebesar 505.024 ton. Jumlah produksi susu tersebut belum dapat memenuhi permintaan total konsumsi. Total konsumsi susu pada tahun 1997 sebesar 1.050 ribu ton dan terus mengalami peningkatan, sehingga pada tahun 2001 menjadi sebesar 1.330 ribu ton. Dengan demikian penyediaan susu dalam negeri selama lima tahun terakhir mengalami defisit rata-rata sebesar 740,66 ribu ton per tahun (diolah dari Deptan, 2001). Umumnya susu dihasilkan dari ternak sapi perah. Defisit penyediaan susu yang tidak terpenuhi dari penyediaan susu sapi perah, merupakan peluang bagi pengembangan ternak kambing perah sebagai alternatif pengembangan usaha dan penyediaan susu di Indonesia. Jumlah defisit tersebut ekuivalen dengan 740.660 ekor kambing perah laktasi, yang berarti dapat dijadikan sebagai usaha kecil yang layak untuk 74.066 orang peternak. Susu kambing perah yang diproduksi kemudian dipasarkan masih terbatas. Hal ini karena susu kambing belum banyak dikenal dan kurang populer dibandingkan dengan susu sapi. Permintaan susu kambing terbatas untuk daerah tertentu dan untuk etnik tertentu. Kambing menjadi pilihan alternatif usahaternak dengan mempertimbangkan keunggulan yang dimiliki ternak tersebut. Beberapa keuntungan dalam memelihara ternak kambing adalah sebagai berikut (Sudono, 2002) : Kebutuhan lahan untuk memelihara ternak kambing tidak terlalu luas. Kambing memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap berbagai lingkungan, sehingga mudah dipelihara dan dikembangkan baik di dataran tinggi maupun dataran rendah bahkan di daerah kering dengan sumber makanan kasar sekalipun. Kambing memiliki perkembangbiakan yang cepat. Umur 1,5 tahun sudah mulai beranak dan dalam dua tahun dapat beranak tiga kali. Setiap kali beranak dapat melahirkan dua ekor. Selain daging dan susu, kambing dapat diambil kulitnya untuk kebutuhan industri. Limbah kotoran kambing dapat digunakan sebagai pupuk pertanian. Kambing merupakan sumber uang tunai yang sewaktu-waktu lebih mudah dijual. Susu kambing mengandung kadar protein dan lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Investasi yang dibutuhkan untuk memelihara ternak kambing lebih kecil daripada ternak besar seperti sapi perah. http://binaukm.com/2010/04/peluang-usaha-ternak-kambing

JUAL BELI DENGAN NON MUSLIM

oleh: Ust. Aris Munandar, S.S., M.A. Menjual barang kepada non muslim atau membeli barang yang dijual oleh non muslim pada dasarnya dibolehkan, dasarnya adalah Alquran, hadis, dan kesepakatan ulama. وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ "Dan sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) itu halal bagi kalian." (QS. Al-Maidah: 5). Sembelihan non muslim ahli kitab itu bisa jadi kita peroleh melalui jalan hadiah dan pemberian atau pun jual beli. عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - قَالَتِ اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - مِنْ يَهُودِىٍّ طَعَامًا وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan (baca: gandum) dari orang Yahudi secara tidak tunai dan beliau serahkan kepada orang Yahudi tersebut baju besi beliau sebagai jaminan.” (HR Bukhari dan Muslim) Yang dimaksud dengan bahan makanan dalam hadis di atas adalah gandum kasar. عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - قَالَ وَلَقَدْ رَهَنَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - دِرْعَهُ بِشَعِيرٍ Dari Anas radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggadaikan baju besi beliau untuk membeli gandum kasar secara tidak tunai.” (HR. Bukhari, no. 2373). Ketika itu mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berhutang gandum saja kepada shahabat yang kaya namun malah memilih bertransaksi dengan orang Yahudi? Ada beberapa jawaban untuk menjawab pertanyaan ini: Nabi ingin menjelaskan kepada umatnya mengenai boleh bertransaksi jual beli dengan Yahudi dan itu bukanlah termasuk loyal kepada orang kafir. Atau ketika itu tidak ada shahabat yang memiliki bahan makanan yang berlebih. Atau Nabi khawatir jika beliau berhutang gandum dengan para shahabat, mereka lantas tidak mau dibayari, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak ingin menyusahkan mereka. Dalam shahih Bukhari terdapat bab yang judulnya 'Bab menjual dan membeli barang dari orang orang musyrik dan orang kafir yang memerangi kaum muslimin'. Di antara hadis yang beliau bawakan dalam bab ini adalah hadis sebagai berikut: عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرٍ - رضى الله عنهما - قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - ثُمَّ جَاءَ رَجُلٌ مُشْرِكٌ مُشْعَانٌّ طَوِيلٌ بِغَنَمٍ يَسُوقُهَا فَقَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - « بَيْعًا أَمْ عَطِيَّةً أَوْ قَالَ أَمْ هِبَةً » . قَالَ لاَ بَلْ بَيْعٌ . فَاشْتَرَى مِنْهُ شَاةً Dari Abdurrahman bin Abu Bakar radhiallahu ‘anhu beliau bercerita ketika kami sedang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Datanglah seorang laki-laki musyrik yang postur tinggi badannya di atas rata-rata sambil menggiring kambing-kambingnya. Lantas Nabi bertanya kepadanya, "Apakah kambing kambing ini mau dijual ataukah dihibahkan?" Dia menjawab, "Dijual". Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli seekor kambing darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim). An Nawawi mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bolehnya bermuamalah (jual beli, sewa, dll.) dengan non muslim (Syarh Nawawi untuk Shahih Muslim, 10:218). Jadi dibolehkan bermuamalah dengan non muslim selama barang yang menjadi objek transaksi bukanlah barang yang haram dan barang tersebut bukanlah barang yang akan digunakan non muslim tersebut untuk memerangi kaum muslimin. Sehingga rusaknya akidah dan keyakinan mereka serta jeleknya transaksi yang mereka lakukan dengan sesama mereka tidaklah kita pertimbangkan dalam hal ini. Tentu saja kita sadari bahwa sebagian besar sumber pendapatan orang kafir adalah sumber sumber yang tidak halal dalam tinjauan agama kita baik dengan cara menipu, membungakan uang atau selainnya. Oleh karena itu, bolehnya bertransaksi jual beli dan selainnya dengan non muslim adalah dalil bolehnya bertransaksi dengan seorang muslim yang mayoritas hartanya berasal dari sumber yang haram. Artikel www.PengusahaMuslim.com

Selasa, 24 Januari 2012

BUDIDAYA KAMBING PEDAGING

Posted on 25-01-2012
Kambing (Capra aegagrus hircus), secara genetik berbeda dengan domba atau biri-biri (Ovis Linnaeus, Ovis aries). Ciri khas yang paling mudah membedakan kambing dengan domba adalah tanduknya. Tanduk kambing tumbuh mengarah ke atas, baru kemudian melengkung ke belakang. Sedangkan tanduk domba, tumbuh ke arah belakang, terus melengkung ke bawah membentuk lingkaran. Kambing jantan berjenggot, domba jantan tidak berjenggot. Namun di pasar, terlebih setelah ternak ini dipotong dan dipasarkan sebagai daging, masyarakat hanya mengenal nama kambing. Daging kambing dan daging domba, sama-sama disebut daging kambing.

Konsumen, tidak pernah menjumpai daging domba. Terlebih sate domba, gulai domba, sop domba, dan domba guling. Padahal, populasi domba di Indonesia, lebih banyak dibanding dengan kambing. Masyarakat Jawa Barat, lebih senang memelihara domba. Sedangkan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur, menyukai domba maupun kambing. Hingga di Jawa Tengah, dikenal istilah wedhus gibas (kambing etawa), wedhus kacangan (kambing kecil, kambing biasa), dan wedhus gembel (domba, biri-biri). Bulu kambing lurus dan halus, sedangkan bulu domba keriting dan bergulung-gulung mirip awan. Awan panas di Gunung Merapi, Jawa Tengah, disebut “wedhus gembel”, karena bentuknya mirip bulu domba.

Kalau di Indonesia daging kambing dan domba dianggap sama, maka di pasar internasional, kambingnya sendiri disebut goat, sedangkan dagingnya chevon. Domba disebut sheep, dan dagingnya mutton atau lamb. Hingga masyarakat tidak bingung memilih, mana yang daging kambing dan mana yang domba. Perbedaan antara kambing dengan domba juga terdapat pada pakannya. Domba lebih menyenangi rumput, sedangkan kambing mau makan daun-daunan. Sebab habitat nenek moyang kambing berupa pegunungan gunung yang banyak perdu serta pepohonannya. Habitat nenekmoyang domba adalah lembah pegunungan yang kaya rumput.

# # #

Kambing mulai dibudidayakan manusia sejak 10.000 tahun yang lalu, di lereng pegununganh Zagros, Iran. Ketika itu, masyarakat setempat memelihara kambing, domba serta sapi untuk dimanfaatkan susu, daging, wool, dan kulitnya. Kulit kambing digunakan sebagai pakaian, alas tidur, tenda, wadah air dan anggur, serta untuk menulis. Sebelum digunakan kertas yang diketemukan oleh Bangsa China, masyarakat Timur Tengah menulis terutama dengan kulit kambing dan domba. Selain dengan kain dan lembaran daun Papyrus. Ketika itu, yang disebut “membudidayakan” hanyalah sekadar menjaga dan menggiring ternak ke padang rumput yang lebih hijau.

Nama Capra aegagrus diberikan oleh Erxleben, pada tahun 1777, dengan beberapa subspesies. Di antaranya adalah Capra aegagrus aegragus (Bezoar IbeX), Capra aegagrus blythi (Sindh Ibex), Capra aegagrus chialtanensis (Chiltan Ibex), Capra aegagrus creticus (Cretan Kri-kri), Capra aegagrus hircus (kambing budidaya, Domestic Goat), dan Capra aegagrus turmenica (Bearded Goat). Selain itu masih ada pula Alpine Ibex, Nubian Ibex, Spanish Ibex, Chamois, Markhor, West Caucasian Tur, East Caucasian Tur, dan Auckland Island Goat yang terancam punah. Kecuali Capra aegagrus hircus, semua jenis yang disebutkan tadi merupakan kambing liar.

Kambing budidaya sendiri, terbagi pula menjadi beberapa jenis, sesuai dengan tujuan budidayanya. Yang termasuk kategori kambing pedaging antara lain Boer, Kiko, Rove, Spanish, Fainting dan Pygmy. Yang dipelihara sebagai kambing perah adalah French Alpine, British Alpine, American Alpine, Golden Guernsey, La Mancha, Nigerian Dwarf, Nubian, Anglo-Nubian, Oberhasli, Rove, Saanen, Sable Saanen, Toggenburg, Kinder, Majorera, dan Palmera. Jenis yang dibudidayakan untuk diambil bulunya adalah Angora, Cashmere, Pygora, dan Nigora. Khusus untuk produksi kulit adalah Black Bengal (kambing benggala). Pygmy, Nigerian Dwarf dan Australian Miniature Goat adalah jenis kambing yang dipelihara sebagai pet (hewan peliharaan).

Di Indonesia, baik kambing maupun domba, hanya dipelihara untuk dimanfaatkan daging dan kulitnya. Sebab bulu domba maupun kambing, tidak pernah diambil untuk dipintal menjadi bahan pakaian dan karpet. Domba, hampir tidak pernah diambil susunya. Tetapi kambing, khususnya kambing Peranakan Ettawa (PE), sudah teribasa diperah susunya. Nilai ekonomis susu kambing, lebih tinggi dibanding dengan susu sapi. Itulah sebabnya di Jawa Tengah dan DIY, khususnya di Purworejo dan Kulonprogo, pemeliharaan kambing PE berkembang dengan sangat pesat. Selain daging dari kambing jantan, peternak juga bisa memperoleh tambahan penghasilan dari susu.

# # #

Habitat asli kambing adalah pegunungan, dengan lereng dan tebing yang curam. Hingga menu kambing lebih banyak berupa daunan. Baik daun perdu maupun pohon. Beda dengan domba yang lebih menyukai rumput, karena habitat aslinya berupa lembah dengan padang rumputnya. Para peternak yang memelihara kambing dan domba dalam kandang, tahu kecenderungan ternak mereka. Hingga mereka lebih banyak memberi rumput pada domba, dan daun-daunan pada kambing. Kambing mau makan daun nangka, albisia, lamtoro, singkong, batang jagung (tebon), limbah ubi jalar, kacang tanah dan juga rumput. Sebaliknya domba kurang menyukai daun-daunan.

Di beberapa tempat di Jawa, kambing dan domba dipelihara dengan cara diliarkan. Demikian pula di Sumatera. Bahkan di Sumatera, juga di Sulawesi, NTB dan NTT, sapi dan kerbau pun dipelihara dengan diliarkan. Meskipun sama-sama diliarkan, kambing akan lebih memilih menu daun-daunan, sementara domba lebih memilih menu rumputan. Seorang peternak di kawasan Sumatera Utara, pernah mengeluh karena kambingnya terkena penyakit dan banyak yang mati. Meskipun peternak ini sudah menghubungi dokter hewan setempat, kematian kambingnya tetap tidak tercegah. Setelah dia berkonsultasi dengan Insinyur Peternakan, barulah masalahnya teratasi.

Ternyata, masalah yang dihadapi peternak tadi adalah soal pakan. Dia memelihara kambing sekaligus domba, yang dikandangkan secara terpisah. Pakan untuk dua jenis ternak ruminansia ini sama, yakni rumput gajah dan hijauan limbah pertanian, tanpa konsentrat. Dengan pakan ini, domba dapat hidup sehat dan produktif. Sementara tanpa pakan daun-daunan, kambingnya mudah terserang penyakit. Setelah pakannya diubah, maka kambing yang dipelihara peternak tadi bisa sehat dan berkembangbiak, sama dengan dombanya. Fakta ini telah menimbulkan anggapan, bahwa domba lebih tahan banting dibanding kambing.

Di Indonesia maupun di dunia internasional, populasi kambing memang kalah dibanding domba. Namun daging kambing punya kelebihan dibanding dengan daging domba, sapi bahkan juga ayam. Sebab daging kambing lebih sedikit mengandung asam lemak jenuh dan kolesterol, dibandingkan dengan daging domba dan sapi. Kecilnya kandungan lemak dan kolesterol pada daging kambing, bahkan bisa disetarakan dengan daging ayam. Nutrisi daging kambing juga lebih baik dibanding ayam, karena kandungan mineralnya lebih tinggi. Selama ini, masyarakat selalu keliru, menganggap daging kambing mengandung asam lemak jenuh dan kolesterol tinggi.

# # #

Kekeliruan masyarakat Indonesia ini, disebabkan oleh disamakannya daging kambing dengan daging domba. Meskipun dalam beberapa hal, kambing memang sangat mirip dengan domba. Selain sama-sama hewan ruminansia (memamah biak), umur dewasa kambing dan domba juga sama, yakni sekitar satu tahun. Pada umur itu, kambing betina siap dikawinkan dan beranak. Usia kebuntingan pada kambing dan domba juga sama, yakni sekitar 150 hari (5 bulan). Hingga dalam satu tahun, seekor induk betina dapat melahirkan anak sampai dua kali, sebanyak dua ekor. Kedangkala kambing hanya beranak satu ekor, tetapi bisa pula tiga ekor.

Seekor induk kambing perah yang baik, mampu menghasilkan susu sebanyak 2 liter per hari. Namun kambing PE umumnya hanya menghasilkan susu1 sampai 1,5 liter per hari. Masa laktasi kambing antara 200 sampai 300 hari (8 sampai 10 bulan). Pada pemeliharaan kambing pedaging, peternak akan menyapih anak kambing paling lama pada umur 4 bulan, kemudian kembali mengawinkan induknya. Hingga pada tahun tersebut, induk betina dapat beranak dua kali. Kalau pada bulan Januari peternak membeli sepasang anak kambing lepas sapih (umur 7 bulan), maka pada bulan Juni tahun itu juga kambing akan siap kawin.

Pada bulan November tahun itu pula, kambing akan beranak. Tahun berikutnya induk betina akan beranak pada bulan Oktober. Sementara anak yang lahir pada bulan November tahun sebelumnya, akan siap kawin pada bulan November atau Desember. Pada tahun III, peternak sudah memiliki dua induk betina, dua kambing jantan dan empat ekor anak kambing. Anak kambing umumnya berkelamin jantan betina secara proporsional. Pada tahun IV, peternak sudah punya empat induk betina, empat kambing jantan dan delapan ekor anak kambing. Budidaya kambing relatif cepat menguntungkan, karena pertumbuhannya mengikuti deret ukur.

http://foragri.wordpress.com/2011/05/09/budidaya-kambing-pedaging/